Lebih dari 120 Aktivis Serikat Ikuti Training of Trainers Leadership and Organising di Bogor

Bogor – Jawa Barat, aspekindonesia.com | Lebih dari 120 aktivis serikat pekerja, organiser, dan jurnalis mengikuti Training of Trainers (ToT) Leadership and Organising yang berlangsung pada 5–7 September 2026 di Hotel Onih, Bogor, Jawa Barat.

Pelatihan selama tiga hari tersebut merupakan bagian dari program kerja sama Union to Union, UNI Asia & Pacific Regional Organisation (UNI APRO), Southern Initiative on Globalisation and Trade Union Rights (SIGTUR), dan International Federation of Journalists (IFJ) untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan pengorganisasian gerakan pekerja.

Program ini diarahkan untuk membangun trainer-trainer baru yang mampu menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan serta keterampilan organising di serikat pekerja dan komunitas masing-masing.

Berbeda dari pelatihan yang hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, ToT Leadership and Organising menempatkan peserta sebagai calon trainer dan organiser yang diharapkan mampu mengembangkan pemimpin baru, memperluas keterlibatan anggota, membangun struktur organisasi, serta mengubah persoalan bersama menjadi kekuatan dan aksi kolektif.

Salah satu fokus utama pelatihan adalah memahami organising sebagai proses membangun kekuatan secara berkelanjutan, bukan sekadar menggerakkan orang dalam sebuah kegiatan atau aksi.

Peserta diajak memahami perbedaan antara organising dan mobilising. Organising merupakan proses memperluas basis kekuatan dengan membangun hubungan dan melibatkan orang-orang yang belum tentu sejak awal memiliki pandangan atau tingkat keterlibatan yang sama. Proses tersebut dilakukan melalui pembangunan hubungan, kepemimpinan, struktur, strategi, dan aksi yang terus berkembang.

Sementara itu, mobilising lebih banyak berfokus pada menggerakkan orang-orang yang sebelumnya telah memiliki kepedulian atau kesepakatan terhadap suatu isu dan tuntutan.

Karena itu, organising ditempatkan sebagai pendekatan jangka panjang untuk membangun kapasitas organisasi agar mampu mengubah kondisi pekerja dari pasif menjadi aktif, terbagi menjadi bersatu, tanpa arah menjadi memiliki tujuan, reaktif menjadi memiliki inisiatif, serta terdemobilisasi menjadi mampu melakukan aksi secara efektif.

Pelatihan juga menekankan pentingnya membangun mayoritas hingga supermayoritas di tempat kerja maupun organisasi. Semakin luas pekerja terlibat dan mengambil kepemilikan terhadap perjuangan bersama, semakin besar kekuatan kolektif yang dapat dibangun untuk memenangkan sekaligus mempertahankan perubahan.

Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran teori, diskusi, simulasi, dan praktik pengorganisasian.

Materi yang diberikan antara lain Leadership for Change, Team Dynamics, Coaching, Storytelling, komunikasi tentang serikat pekerja, Relationship Conversations, Leadership Identification, Mapping & Workplaces, Joining Conversations, Objection Handling, hingga penyusunan target pengorganisasian yang akan dijalankan dalam tiga bulan setelah pelatihan.

Salah satu kerangka utama yang digunakan adalah lima praktik kepemimpinan dalam pengorganisasian: membangun shared story; membangun hubungan yang menghasilkan tindakan; membentuk tim dengan tujuan dan struktur yang jelas; menyusun strategi kreatif; serta menerjemahkan strategi tersebut menjadi tindakan yang terukur dan efektif.

Peserta juga melakukan praktik organising conversation, yakni percakapan pengorganisasian untuk membangun hubungan, menggali persoalan dan kebutuhan, mengeksplorasi kepentingan, menghadapi keberatan, membangun komitmen, serta mendorong seseorang mengambil peran dalam aksi kolektif.

Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya mempelajari apa yang harus dilakukan seorang organiser, tetapi juga berlatih bagaimana melakukan pengorganisasian secara langsung.

Training of Trainers ini melibatkan Teacher dan Trainer yang memiliki pengalaman dalam pengorganisasian, pengembangan kepemimpinan, gerakan serikat pekerja, serta gerakan sosial di tingkat nasional maupun internasional.

Shay Leighton menjadi salah satu Teacher. Shay merupakan aktivis sosial, anggota serikat pekerja, dan organiser komunitas yang telah bekerja sekitar 25 tahun dalam pengembangan komunitas, strategi kolaboratif, percakapan sulit, dan pengembangan kepemimpinan. Ia juga merupakan Teaching Fellow untuk Profesor Marshall Ganz di Centre for Public Leadership, Harvard Kennedy School.

Dari Australia hadir Madi Sarich-Prince, Organiser di Australian Manufacturing Workers’ Union (AMWU). Madi menyelesaikan program Leadership Organising and Action pada 2022 dan pelatihan coach pada 2023, serta aktif memberikan pelatihan kepemimpinan dan pengorganisasian kepada anggota serikat dan aktivis masyarakat sipil.

Teacher lainnya adalah Phil O’Donoghue, aktivis hak pekerja dan keadilan sosial yang memiliki pengalaman selama 14 tahun sebagai Petugas Media dan Kampanye di UnionsWA. Ia juga berpengalaman dalam pelatihan narasi publik dan pengorganisasian tingkat lanjut.

Dari UNI Global Union, hadir Hovig Melkonian, Direktur Pengorganisasian serta Direktur Graphical & Packaging UNI Apro. Hovig memiliki pengalaman mendukung berbagai kampanye pengorganisasian di Filipina dan India serta pengembangan pusat-pusat pengorganisasian di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Sementara itu, Trainer yang terlibat dalam pelatihan ini di antaranya Tilak Jang Khadka, Care Director / Program and Organising Coordinator; Pooja Kapahi, Director, UNI Apro Youth; John Troughton, IFJ Asia-Pacific Projects Manager; Tauvik Muhamad, Perwakilan UNI Apro untuk Indonesia; Tri Asmoko Aripan, Sekretaris Jenderal ASPEK Indonesia; Lily Aulia, aktivis LION Indonesia; Sabda Pranawa Djati, Wakil Presiden Federasi Hukum dan Advokasi ASPEK Indonesia; serta Dhiccy Sandewa, aktivis gerakan sosial dan lingkungan dari LION Indonesia.

Para Teacher dan Trainer terlibat dalam mendampingi proses pembelajaran, diskusi, simulasi, dan praktik peserta selama pelatihan.

Kerangka pengorganisasian dalam pelatihan juga memperkenalkan peserta pada pemikiran dan pengalaman Marshall Ganz dan Jane McAlevey, dua figur yang banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan kepemimpinan dan pengorganisasian gerakan.

Marshall Ganz memiliki pengalaman panjang dalam gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat serta pengorganisasian United Farm Workers pada dekade 1960-an dan 1970-an. Pengalamannya kemudian berkembang menjadi kerangka kepemimpinan dan public narrative yang digunakan dalam berbagai gerakan sosial.

Sementara Jane McAlevey dikenal melalui pengalaman panjangnya dalam pengorganisasian serikat pekerja dan strategi membangun kekuatan pekerja berbasis partisipasi mayoritas. Pemikirannya menekankan pentingnya pengorganisasian mendalam, identifikasi pemimpin alami, structured organising conversations, serta pembangunan mayoritas sebagai basis kekuatan kolektif.

Kerangka tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai latihan praktis agar peserta tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi mampu menggunakannya ketika melakukan pengorganisasian di tempat kerja maupun komunitas.

Training of Trainers Leadership and Organising dirancang agar proses pembelajaran tidak berakhir ketika peserta meninggalkan ruang pelatihan.

Setiap peserta didorong menerjemahkan keterampilan yang diperoleh menjadi target dan rencana pengorganisasian untuk tiga bulan berikutnya. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang menyelesaikan kegiatan, tetapi dari kemampuan mereka mengembangkan pemimpin baru, memperluas basis organisasi, menemukan pemimpin alami, membangun mayoritas, serta menjalankan strategi dan aksi yang menghasilkan perubahan.

Pada akhirnya, kekuatan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak orang yang dapat dikumpulkan dalam sebuah aksi. Kekuatan dibangun melalui hubungan yang kuat, kepemimpinan yang terus berkembang, struktur yang hidup, strategi yang tepat, serta kemampuan anggota untuk bertindak bersama secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari program kerja sama Union to Union, UNI APRO, SIGTUR, dan IFJ, Training of Trainers Leadership and Organising di Bogor menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat kapasitas gerakan pekerja serta menyiapkan generasi baru trainer, organiser, dan pemimpin yang mampu membawa proses pengorganisasian kembali ke tempat kerja, serikat pekerja, dan komunitas—serta membangun kekuatan kolektif pekerja di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.