
Jakarta, aspekindonesia.com | (7 Oktober 2025) Konfederasi Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Konfederasi ASPEK Indonesia) menegaskan bahwa Kedutaan Besar Amerika Serikat, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dan rezim Zionis Israel harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Hari ini Selasa, 7 Oktober 2025, ribuan buruh dan pengemudi ojek daring (ojol) turun ke jalan dalam aksi solidaritas untuk rakyat Palestina, bertepatan dengan peringatan World Day for Decent Work — Hari Kerja Layak Internasional.
Namun, tahun ini, “kerja layak” kehilangan maknanya.
Bukan sekadar soal upah atau jaminan sosial. Di Gaza, bekerja untuk bertahan hidup saja tak lagi mungkin. Rumah sakit dihancurkan, anak-anak dibantai, dan para pekerja — guru, tenaga medis, buruh konstruksi, nelayan, sopir — menjadi sasaran bom.
Dan yang lebih memilukan: dunia memilih diam.
Amerika Serikat terus memasok senjata ke Israel.
ILO bungkam.
PBB kehilangan wibawa.
“Kerja layak tak bisa dipisahkan dari hak untuk hidup.
Jika dunia kerja diam melihat genosida, maka ia kehilangan moralnya. Hari ini kami tidak hanya menuntut decent work, kami menuntut decent world – dunia yang adil dan berani melawan kejahatan.” ungkap Muhamad Rusdi, Presiden Konfederasi ASPEK Indonesia
Rusdi juga menjelaskan aksi damai ini dimulai dari Patung Kuda dan dilanjutkan longmarch menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat – simbol paling nyata dari keterlibatan dalam genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Kami tidak datang membawa tuntutan upah.
Kami datang membawa suara nurani.
Karena ketika elit dunia memilih bungkam, rakyat biasa harus bersuara.
Mengapa Kami Tetap Turun Meski Ada Seruan Gencatan Senjata?
Karena kami menolak tertipu oleh narasi palsu.
Seruan gencatan senjata yang digaungkan belakangan ini hanyalah ilusi yang disusun untuk meredam tekanan global. Faktanya, bom masih dijatuhkan. Anak-anak masih dibunuh. Bantuan kemanusiaan masih diblokir.
Kami tidak akan tertipu oleh “gencatan senjata” yang hanya meredakan opini – tapi membiarkan kekejaman terus berjalan.
Kami turun karena genosida belum berhenti.
Tiga Pusat Kekuasaan yang Harus Dikecam:
1. Amerika Serikat, sebagai sponsor utama persenjataan dan perlindungan diplomatik Israel, terlibat langsung dalam genosida. Ini bukan hanya pembiaran – ini adalah keterlibatan aktif dalam pembunuhan massal.
2. ILO, lembaga buruh internasional, gagal menunjukkan keberanian dan keberpihakan terhadap sesama pekerja di Palestina. Bungkamnya ILO adalah bentuk pengkhianatan terhadap misi dasar perburuhan global.
3. Zionis Israel, yang tak lagi bisa dilihat sebagai “negara demokratis” atau mitra dialog. Dunia harus menyebutnya dengan benar: entitas penjajah dan pelaku kejahatan perang.
Lima Tuntutan Buruh Indonesia untuk Keadilan Kemanusiaan:
1. Hentikan segera seluruh bentuk genosida dan agresi militer Israel terhadap rakyat Palestina.
2. Desak PBB dan ILO untuk bertindak konkret, bukan hanya membuat pernyataan kosong.
3. Tuntut serikat buruh global untuk turun tangan membela rakyat dan pekerja Palestina.
4. Jatuhkan sanksi internasional terhadap Benjamin Netanyahu dan negara Zionis Israel atas kejahatan perang.
5. Buka akses penuh untuk bantuan kemanusiaan: tanpa blokade, tanpa syarat, tanpa intervensi militer.
Apa gunanya memperingati World Day for Decent Work jika dunia kerja memilih bungkam saat ribuan pekerja dikubur di bawah puing-puing bom?
Gaza bukan sekadar isu Palestina. Gaza adalah ujian moral bagi dunia. Dan hari ini, dunia gagal. Lembaga internasional gagal. Pemerintah-pemerintah besar gagal.
Maka biarlah suara dari jalanan Jakarta menjadi suara nurani terakhir yang tersisa di tengah kebisuan global.
“Kami, buruh Indonesia, menolak jadi penonton dalam tragedi ini. Solidaritas bukan simbol – ia adalah sikap. Jika dunia kerja tak berani bersuara, maka biarlah suara dari bawah menggema sampai ke atas. Untuk Gaza.” pungkas Rusdi.(TM/RS)
